Arsip untukPengembangan Diri

Apakah Asmara Timbul Sejak Pertemuan Pertama?

Ada satu artikel yang membuatku tertarik ketika membacanya. Artikel ini ditulis oleh A. S. Kho Ping Hoo. Beginilah tulisannya:

“Cinta asmara memang sesuatu yang amat aneh. Pada dasarnya memang ada daya tarik yang amat kuat antarlawan jenis, antara pria dan wanita. Daya tarik ini adalah alamiah, seperti magnet bumi (North and South), dua kekuatan yang saling berlawanan, saling tarik, yang membuat bumi berputar, yang membuat segala sesuatu menjadi hidup dan berkembang. Seorang pria, setelah memasuki masa remaja dan akil balik, akan tertarik melihat seorang wanita, atau sebaliknya. Hal ini sudah wajar, kelenjar-kelenjar dalam tubuh bekerja, otak yang penuh juga bekerja, dan tentu saja rasa tertarik itu diperkuat dengan adanya selera sehingga menimbulkan pilihan-pilihan menurut selera masing-masing. Dan ini, tentu saja, penting sekali karena kalau selera kaum pria serupa, tentu setiap seorang wanita akan diperebutkan oleh banyak pria, atau juga sebaliknya.

Pertemuan pertama antara pria dan wanita, terutama yang cocok dengan selera masing-masing, menimbulkan kesan pertama. Akan tetapi, hal ini tidak atau jarang sekali berarti timbulnya rasa cinta. Cinta biasanya timbul setelah masing-masing bergaul dan berdekatan, setelah masing-masing mengenal keadaan satu sama lain. Betapapun juga, pertemuan pertama merupakan goresan awal yang bukan tidak mungkin berlanjut dengan perkenalan dan saling mencinta.

Bunga-bunga api asmara suka berpijar di sudut kerling mata dan di ujung senyum bibir. Kemudian, apabila memperoleh bahan bakarnya, bunga api yang berpijar itu akan membakar hati. Kalau hati sudah saling mencinta, tidak ada kekuatan apapun di dunia ini yang akan dapat mengalahkannya. Dengan kekerasan, badan boleh dipisah. Akan tetapi, terikatnya dua hati  yang saling mencinta akan dibawa sampai mati.”

Setelah membaca artikel itu, entah mengapa, aku ingin sekali menuliskannya di page ini walaupun aku sendiri belum pernah mengalami hal-hal yang tertulis di situ. Saat ini aku hanya berpikir,”Mungkin akan berguna untukku dan sahabat-sahabatku kelak”. Semoga saja.

Mengejar Kebahagiaan?? Mungkinkah?

Sesungguhnya, kalau kita mau melihat kenyataan, timbul sebuah pertanyaan: Dapatkah kebahagiaan dikejar dan dicari?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, sebaiknya diselidiki lebih dahulu apakah sesungguhnya yang dimaksud dengan BAHAGIA itu? Apakah kebahagiaan itu kepuasan hati karena tercapainya sesuatu yang diinginkan? Kalau begini, bahagia itu terbatas sekali dan hanya berumur beberapa lama saja karena kepuasan ini pun hanya sementara dan segera berubah dengan kebosanan. Apakah bahagia itu kesenangan? Juga tidak karena kesenangan hanyalah pemuasan nafsu belaka, rasa nyaman dan enak bagi badan kita dan pikiran kita, dan kesenangan ini pun hanya sementara saja, amat pendek umurnya, dan kesenangan biasanya diselingi kebosanan dan bahkan mempunyai saudara kembar yaitu kesusahan, seperti tawa dan tangis yang datang silih berganti ibarat datangnya musim. Kalau semua itu bukan, lalu apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan?

Bagaimana kita dapat menggambarkan kebahagiaan kalau kita sendiri berada dalam susah dan senang, kalau kita selalu diombang-ambingkan gelombang nafsu? Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang mati, bukanlah sesuatu yang pasti sehingga mudah dicari dan dicapai. Kalau kita menghentikan segala kesibukan pikiran kita yang mengejar-ngejar kesenangan, mengejar-ngejar kebahagiaan itu sendiri, kalau kita sudah tidak terseret lagi ke dalam tarikan-tarikan susah dan senang yang bertentangan, kalau sudah tidak ada lagi konflik atau pertentangan dalam batin antara kenyataan yang ada dan gambaran yang kita inginkan, kalau KITA SUDAH TIDAK MENGEJAR APA-APA, tidak menginginkan apa yang berada di luar jangkauan kita, mungkin sekali kita akan dapat merasakan dan mengerti apa artinya bahagia itu.

Jelaslah bahwa apa yang dapat dikejar dan dicari hanyalah kesenangan dan kepuasan sementara dari dorongan keinginan kita untuk mendapatkan kesenangan itu. Dengan demikian, kebahagiaan itu tidak mungkin dapat dicari, tidak mungkin bisa didapatkan melalui pengejaran.

Kita selalu condong untuk mengejar. Karena mengira bahwa kebahagiaan berada di luar diri kita, kita mengejar ke luar, kita mengubah-ubah yang berada di luar. Maka terjadilah pergolakan-pergolakan, terjadilah revolusi-revolusi, terjadilah perang. Kita selalu condong untuk membuat keindahan di luar diri. Kita lupa bahwa sesungguhnya yang indah itu berada di dalam, yang indah itu timbul dari dalam, dan bahagia itu adalah urusan batin, urusan di dalam diri kita sendiri. Tinggal di dalam sebuah gedung mewah memang senang tetapi belum tentu bahagia. Sebaliknya, tinggal di dalam gubuk mungkin saja merasakan kebahagiaan (nyaman dan tentram). Kebahagiaan tidak berada di dalam gedung indah, tidak juga dalam makanan lezat, tidak berada dalam kedudukan tinggi atau di antara tumpukan emas.

Kalau batin sudah tidak mengejar-ngejar, tidak mencari apa yang berada di luar jangkauan kita, maka batin itu akan menjadi tentram dan kita dapat menerima segala sesuatu sebagai hal yang wajar, tanpa mengeluh sedikit pun juga, bahkan dengan senyum tulus ikhlas, karena kewaspadaan membuat kita mengerti bahwa segala itu merupakan suatu kenyataan dan kenyataan itu merupakan suatu keindahan. Segala sesuatu di dunia ini mengandung keindahan bagi batin yang tidak mencari apa-apa. Baik hujan maupun panas, dihadapi dengan senyum dan dipandang sebagai suatu keindahan, tanpa keluhan karena tidak ada yang perlu dikeluhkan, karena tidak ada penyesalan dalam batin, karena tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan yang dicari, karena memang tidak ada yang dicari-cari! Dalam keadaan inilah kita mungkin sekali akan merasakan dan mengerti apa sesungguhnya hakekat kebahagiaan itu.

Tidak mencari kesenangan sama sekali bukan berarti menolak kesenangan! Orang-orang yang menolak kesenangan, mengasingkan diri, mengharamkan segala hal yang mendatangkan rasa enak dan nikmat, sesungguhnya adalah orang-orang yang MENCARI KESENANGAN, dalam bentuk lain! Memang, dalam mencari kesenangan orang seringkali lupa diri, dan bahkan mau bersusah payah menyiksa diri dalam mengejar kesenangan yang dinamakan cita-cita. Dan andaikata yang dikejar dengan cara menyiksa diri itu tercapai, maka yang didapatkannya itu pun hanyalah suatu bentuk kepuasan, suatu bentuk kesenangan perasaan belaka yang ekornya dapat berupa kekecewaan dan kebosanan pula. Perasaan nyaman, enak, nikmat yang dinamakan kesenangan adalah suatu anugrah hidup. Tubuh dan perasaan kita dibekali alat-alat penangkap rasa senang ini, dan kita berhak menikmati kesenangan dalam hidup ini. Kesenangan adalah berkah dan sama sekali tidak berbahaya. Yang berbahaya adalah PENGEJARAN itulah, PENCARIAN itulah, karena dalam mengejar inilah timbul segala macam perbuatan yang merugikan orang lain, yang pada umumnya disebut jahat. Pengejaran kedudukan dan kemuliaan menimbulkan perang dan permusuhan, bunuh-membunuh antarmanusia. Pengejaran kesenangan dalam bentuk harta benda menimbulkan perbuatan-perbuatan curang, korupsi, penipuan, perampokan, pencurian, dsb. Pengejaran terhadap kesenangan dalam bentuk nafsu birahi menimbulkan perkosaan, pelacuran, dsb. Segala macam perbuatan yang pada umumnya merugikan dan dianggap jahat, kalau ditelusur, sudah pasti dasarnya adalah pengejaran kesenangan itu.

Akan tetapi, orang yang tidak mengejar kesenangan, menganggap segala hal yang terjadi merupakan suatu kewajaran dan di dalam kewajaran ini (dimana tidak terdapat keluhan, tidak terdapat kekecewaan karena tidak terdapat pengejaran) terkandunglah kesenangan yang lain lagi! Kenikmatan karena memang cita rasa menganggapnya enak, bukan kenikmatan karena pengejaran. Bagi orang yang tidak mengejar, memperoleh minuman apa pun akan terasa nikmat, baik itu merupakan air jernih biasa maupun minuman yang mahal harganya.

Bukan berarti pula bahwa orang yang tidak mengejar kesenangan lalu menjadi lumpuh semangat dan duduk menganggur! Sama sekali tidak demikian! Akan  tetapi, orang bahagia seperti ini: Kalau bekerja, bukan bermaksud mengejar uang melainkan melakukan suatu pekerjaan yang bermanfaat dan yang sesuai dengan minatnya sehingga di dalam pekerjaan itu sendiri dia sudah mengecap kenikmatan! Uang sebagai upah atau hasil pengerjaannya hanya merupakan akibat saja dalam dunia yang kesemuanya sudah diukur dengan uang ini. Akan tetapi, uang bukan menjadi tujuan utama untuk dikejar melalui pekerjaan. Kalau pekerjaan itu dilakukan sebagai cara untuk mencari uang maka akan timbul hal-hal yang buruk dan curang, pekerjaan itu mungkin menjadi kotor (pegawai berkorupsi, pedagang menipu dan memalsu, memanipulasi, penyelundupan, dll).

Sejak ribuan tahun yang lalu, para cerdik pandai, para cendekiawan, para budiman sudah berusaha mati-matian untuk mencari cara yang baik agar manusia dapat hidup benar dan besar. Berbagai macam cara hidup telah diciptakan manusia dengan berbagai paham, berbagai garis hidup telah dipaksakan kepada manusia. Akan tetapi, kalau kita sekarang menengok keadaan di seluruh dunia, semua cara itu ternyata tidak menolong, tidak dapat membebaskan manusia daripada kesengsaraan, kemurkaan, ketamakan, ketakutan, kebencian, dan permusuhan. Ternyata segala macam kedudukan tinggi, kehidupan mewah, ilmu pengetahuan yang tinggi-tinggi tidak mampu memperbaiki kehidupan batin manusia, tidak mampu mengusir kesengsaraan manusia, TIDAK MAMPU MENDATANGKAN KEBAHAGIAAN dalam batin manusia. Tidak ada paham atau cara apapun yang dapat mengubah batin manusia kecuali dirinya sendiri. Perubahan itu baru bisa terjadi kalau kita mau mengenal diri sendiri, mengamati diri dan lika-liku kehidupan setiap hari dengan penuh perhatian, penuh kewaspadaan. Pengamatan yang mendalam setiap saat akan membuka mata kita bahwa kita sendirilah sumber segala derita, kita sendirilah pencipta kesengsaraan, kita sendiri yang menjauhkan diri dari kebahagiaan, menjauhkan diri dari Tuhan! Tuhan dengan segala berkah-Nya berlimpahan tidak pernah menjauhi kita. Adalah kita yang setiap saat, demi pengejaran kesenangan, menjauhi Tuhan dan setelah akibat pengejaran itu menjerumuskan kita ke dalam lembah kesengsaraan, kita berteriak-teriak mengeluh: Mengapa Tuhan meninggalkan kita?

Orang bahagia akan selalu menerima segala hal yang terjadi sebagai suatu kenyataan hidup tanpa menilai hal itu sebagai baik atau buruk. Tidak mengeluh, tidak menyalahkan siapapun, melainkan membuka mata dengan waspada akan “keinginan hati” yang berada dalam pikiran kita. Artinya, kesadaran diri sangatlah penting untuk menuju kebahagiaan.

 

Berpedoman pada

ASMARAMAN S. KHO PING HOO